Menguak Misteri Sungai Bengawan Solo

Siapa sih yang nggak kenal lagu ini??

Bengawan Solo, riwayatmu kini, sedari dulu jadi perhatian insani

Musim kemarau tak seb’rapa airmu, di musim hujan, air meluap sampai jauh

Reff:

Mata air mu dari Solo, terkurung Gunung Seribu

Air mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut

Itu perahu, riwayatmu dulu

Kaum pedangang slalu, naik itu perahu

Tentunya udah pada tau dong,,, kan lagu ini udah beken !!! iya gak ??? Lah wong udah terkenal di seluruh Indonesia kok penciptanya aja Alm. Gesang yang merupakan maestro asli Indonesia. Beliau menciptakan lagu ini ketika ia duduk – duduk dipinggir sungai ini. Apa sich uniknya sungai ini, sampai-sampai dibuat lagu segala???

Iya memang unik, namun disini kita tidak akan membahas keunikan lagu tersebut apalagi mitos horor terkait Sungai Bengawan Solo (ogah kaliii pake mitos” sgala . . hha :D). Disini kita akan membahas keunikan sungai ini dari aspek geologis nya. Apa keunikannya? Ternyata Bengawan Solo dulu mengalir ke pantai selatan. Jadi, sungai ini alirannya berbalik dari selatan ke utara… kenapa ya?? (woww, pasti asyik tuw!! Mari kita bahas !!!!)

Pantai Selatan Jawa Terangkat

Hahh?? Apa?? Terangkat???. Pertanyaan ini mungkin akan muncul dibenak kalian. (lha wong saya aja masih bingung kokkk). Bukti bahwa pantai selatan terangkat adalah formasi gunung gamping yang tersusun oleh koral. Koral itu kan dulunya berasal dari laut, tapi sekarang mah udah nangkring jadi gunung. Gunung dalam hal ini adalah barisan Pegunungan Selatan yang memanjang dari Provinsi Yogyakarta sampai Provinsi Tulungagung (panjang juga yaaa!!! :D). Seperti yang dikatakan diatas, formasi gunung ini merupakan formasi batu gamping yang terangkat dari dasar laut.

Kalau kalian senang melihat dunia ini dari atas (maksudnya satelit) kalian pasti menggunakan Google Earth. Nah, dari mbah Google ini kita dapat melihat sisaa bengawan jadul. Gambar dibawah ini merupakan jejak – jejak sisa bengawan jadul.

Bengawan Solo jadul, yang bermuara di pantai selatan.

Sungai Bengawan Solo yang kita kenal saat ini bermuara di Gresik yang merupakan pantai utara Jawa. Tapi dulu sungai ini mengalir ke selatan. Kok bisa ???

Prosesnya. . . . .

Seperti yang dijelaskan diatas, sungai ini dulu mengalir ke selatan dan bermuara di Samudera Hindia (Samudera Indonesia juga boleh). Nah, Lempeng Indo-Aus dan Lempeng Eurasia ini yang menjadi biang keladinya. Gara – gara ulah kedua lempeng ini yang saling bertabrakan (lempeng Indo-Aus menghujam lempeng Eurasia) pantai selatan jawa akhirnya terdongkrak ke atas. Sehingga lama kelamaan aliran sungai ini terganggu. Sampai akhirnya, pantai ini sudah terdongkrak cukup tinggi, maka air pun sangat sulit untuk mengalir ke selatan dan memilih untuk mengalah dengan memutar haluannya menuju utara (kaya gw aja, sukanya mengalah . . hahaha :D).

Saat ini kita hanya bisa mengamati sisa – sisa endapan Bengawan Solo purba. Jadi, proses tektoniklah yang mengubah aliran sungai ini bukan gara – gara diusir sama Nyi Roro Kidul karena gak boleh ke selatan !!! hmmm,,.

Pengangkatan lembah Giritontro akibat tumbukan Lempeng Indo-Aus dengan Eurasia yang telah men-stop aliran sungai ini hingga 1 juta tahun yang lalu. Para peneliti memperkirakan kejadian ini terjadi sejak batu gamping formasi Wonsa (Wonosari) terangkat dan muncul ke permukaan pada akhir zaman tersier (wah wah, belum lahir tuw gw!!). Pada zaman ini, sungai ini memiliki sumber di Kab. Wonogiri. Lembah dalam yang memotong Pengunungan Selatan merupakan salah satu peninggalan Bengawan Purba yang mengalir ke selatan. Bengawan Solo Purba terbentuk pada saat batu gamping Formasi Wonosari – Punung terangkat sedikit diatas muka laut yaitu pada akhir Pliosen (ya, ± sekitar 2 juta tahun yang lalu). Pengangkatan yang terus menerus membuat Bengawan Solo mengikis dasar sungai hingga membentuk lembah yang sangat dalam seperti terlihat di tepi jalan Giribelah – Pacitan di dusun Giribelah. Bengawan Solo Purba sudah tidak mengalir lagi di karenakan sinkhole (opo kui???) yang sudah mulai terbentuk. Aliran Bengawan Solo Purba sudah tidak mampu lagi mengimbangi aliran yang masuk ke dalam sistem sungai bawah tanah. Hilangnya aliran permukaan juga disebabkan pengangkatan yang relatif cepat pada Pleistosen Akhir (ya ± sekitar 100.000 – 500.000 tahun yang lalu).

Aliran Bengawan Solo Purba memang sudah tidak ada lagi. Namun, potensi yang ditinggalkan begitu besar terutama peninggalan fosil – fosil. Salah satu fosil yang ditemukan adalah fosil gajah purba yang diberi nama Stegodon trigonocephalus yang kira – kira berumur 700.000 tahun yang lalu. Fosil ini ditemukan hanya berupa gadingnya saja. Ini menunjukkan bahwa dulu di sepanjang sungai ini ada kehidupan.

WOW, TUHAN MEMANG SANGAT LUAR BIASA !!!!

Sekian, semoga bermanfaat

Nb: klo ada kritik saran lewat koment aja yaaa . .nuhun . .

 

 

Dari berbagai sumber

Perihal galangbayu
nothing !!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: